Sabtu, 27 Februari 2016

Makna Santri

Pengertian "SANTRI" menurut bahasa Arab. Yaitu berasal dari kata "santaro", yang mempunyai jama' (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata santri tersebut yang mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta', ra'), seorang ulama’, lain mengimplementasikan kata santri sesuai dengan fungsi manusia, Adapun 4 huruf tersebut yaitu :

──►Sin. Yang artinya "satrul al aurah" (menutup aurat) sebagaimana selayaknya kaum santri yang mempunyai ciri khas dengan sarung, peci, pakaian koko, dan sandal ala kadarnya sudah barang tentu bisa masuk dalam golongan huruf sin ini, yaitu menutup aurat. Namun pengertian menutup aurat di sini mempunyai 2 pengertian yang keduanya saling ta'aluq atau berhubungan. Yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini).
Menutup aurat secara dhahiri gambarannya sesuai dengan gambaran yang telah ada menurut syari'at Islam. Mulai dari pusar sampai lutut bagi pria dan seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah bagi wanita. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang sudah tersurat atau aturan-aturan yang sudah jelas dalam syari'at. Namun satu sisi yang kaitannya makna yang tersirat (bathini) terlebih dahulu kita harus mengetahui apa sebenarnya tujuan dari perintah menutup aurat.

Manusia sebagai mahluk yang mulia yang diberikan nilai lebih oleh Allah berupa akal menjadikan posisi manusia sebagai mahluk yang sempurna dibandingkan yang lain. Dengan akal tersebutlah akan terbentuk suatu custom atau habitual yang tentu akan dibarengi dengan budi dan naluri, yang nantinya manusia akan mempunyai rasa malu jikalau dalam perjalanannya tidak sesuai dengan riel–riel yang telah di tentukan oleh agama dan habitual action atau hukum adab setempat.
Yang kaitannya dengan hal ini, tujuan utama manusia menutup aurat tak lain adalah menutupi kemaluan yang dianggap fital yang berharga. Andaikata manusia sudah tidak dapat lagi menutup kemaluannya yang fital dan berharga itu, berarti sudah dapat ditanyakan kemanusiaannya antara manusia dan mahluk yang lain semisal hewan.

Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana manusia menutupi dan mempunya rasa malu dalam hal sifat dan perilaku secara dhahiri atau bathini. Sebagimana disinggung dalam salah satu hadits : "Alhayaa'u minal iman", malu sebagian dari iman. Tentunya hal ini sudah jelas betapa besar pengaruhnya haya' atau malu dalam kacamata religius (agama) maupun sosial kemasyarakatan.

──►Nun. Yang berarti "naibul ulama" (wakil dari ulama). Dalam koridor ajaran Islam dikatakan dalam suatu hadits bahwa : "al ulama warasatul ambiya' (ulama adalah pewaris nabi). Rasul adalah pemimpin dari ummat, begitu juga ulama. Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom atau pelayan ummat dalam segala dimensi. Tentunya di harapakan seorang ulama mempunyai kepekaan-kepekaan sosial yang tahu atas problematika dan perkembangan serta tuntutan zaman akibat arus globalisasi dan modernisasi, serta dapat menyelesaikannya dengan arif dan bijak atas apa yang terjadi dalam masyarakatnya.

Kaitannya dengan naibul ulama, seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Minimal dalam masyarakat kecil yang ada dalam pesantren. Sebagaimana yang kita tahu, pesantren merupakan sub-kultur dari masyarakat yang majemuk. Dan dengan didukung potensi yang dimiliki kaum santri itulah yang berfungsi sebagai modal dasar untuk memberikan suatu perubahan yang positif sesuai dengan yang di harapkan Islam.

──►Ta'. Yang artinya "tarku al ma'shi" (meninggalkan kemaksiatan). Dengan dasar yang dimiliki kaum santri, khususnya dalam mempelajari syari'at, kaum santri diharapkan mampu memegang prinsip sekaligus konsisten terhadap pendirian dan nilai-nilai ajaran Islam serta hukum adab yang berlaku di masyarakatnya selagi tidak keluar dari jalur syari'at.

Kaitannya hal tersebut yaitu seberapa jauh kaum santri mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan dan sejauh mana pula ia memegang hubungan hablum minallah dan hablum minannas, hubungan horizontal dan vertikal dengan sang khaliq dan sosial masyarakat. Karena tarku al ma'shi tidak hanya mencakup pelanggaran-pelanggaran hukum yang telah ditetapkanNya, tetapi juga hubungan sosial dengan sesama mahluk, baik manusia ataupun yang lain.

 ──►Ra'. Yang artinya "raisul ummah" (pemimpin ummat). Manusia selain diberi kehormatan oleh Allah sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding yang lain. Manusia juga diangkat sebagai khalifatullah di atas bumi ini. Sebagaimana diterangkan dalam firmanNya "inni ja'ilun fil ardhi khalifah" (QS. Al-Baqarah : 30), yang artinya "Sesungguhnya aku ciptakan di muka bumi ini seorang pemimpin."

Kemuliaan manusia itu ditandai dengan pemberianNya yang sangat mempunyai makna untuk menguasai dan mengatur apa saja di alam ini, khususnya ummat manusia. Selain itu pula peranan khalifah mempunyai fungsi ganda. Pertama, ibadatullah (beribadah kepada Allah) baik secara individual maupun sosial, dimana sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, ummat Islam juga dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial.
Kedua, 'imaratul ardhi, yaitu membangun bumi dalam arti mengelola, mengembangkan, dan melestarikan semua yang ada. Jika hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia itu hukumnya wajib. Maka melestarikan, mengembangkan, serta mengelola pun hukumnya wajib. Sebagaimana di jelaskan dalam salah satu kaidah fiqih; "ma la yatimmu bihi wajib fahuwa wajibun", sesuatu yang menjadikan kewajiban maka hukumnya pun wajib.

Gambaran di atas merupakan suatu peran serta tanggung jawab seorang santri, dalam hal pengembangan. Di situlah diperlukan suatu mentalitas religius serta totalitas kesadaran, karena kaum santrilah yang dapat dijadikan harapan dalam mengembalikan konsep-konsep ajaran Islam dan di sini muncullah beberapa pertanyaan. Bagaimana keadaan dan perkembangan kita sebagai seorang santri? Sudah sesuaikah seperti gambaran di atas? Dan layakkah kita disebut sebagai santri? Dengan merubah diri kita dululah, maka kita akan dapat menghasilkan perubahan. Insya Allah…!!
Santri :
──► Sin : Satrul al aurah (menutup aurat)
──► Nun : Naibul ulama’ (wakil dari ulama’)
──► Ta’ : Tarku al ma’shi (meninggalkan kemaksiatan)
──► Ra’ : Raisul ummah (pemimpin ummat)
#Semoga Bermanfaat

Haram Jadi Halal

HARAM JADI HALAL


من ترك الحرم نل حللا
[Barang Siapa Meninggalkan Perkara Haram Maka akan Mendapatkan yang Halal]

                Pada suatu hari ada seorang pemuda yang bernama Zaid. Dia seorang pemuda yang menjaga ibadahnya, terutama dalam hal sholat Lima waktu dan ia selalu berjamaah di masjid. Setiap hari dia berangkat terakhiran dan selalu dapat shof yang paling belakang. Namun, dibalik kerajinannya dalam beribadah, ternyata dia juga suka mencuri sandal jama’ah yang di masjid. Jadi, ketika sholat selesai dia langsung pulang sambil mencari dan mengambil sandal jama’ah yang paling bagus. Setiap hari dia selalu melakukan hal yang sama, sampai sandal yang ia dapat tidak lagi bisa dihitung dengan jari. Karena saking banyaknya.

                Suatu saat turunlah hujan yang sangat deras, akibatnya si zaid tidak bisa sholat di shof paling belakang. Tapi ketika habis sholat pemuda itu tetap nekat mencuri sandal jama’ah, ternyata yang diambil adalah sandal pak kyai dan perbuatannya itu diketahui salah seorang warga. Dan dibawalah pemuda itu kepada pak kyai. 

Kemudian pak kyai bertanya kepada pemuda tersebut,”apakah kamu benar mau mencuri sandal saya??” pemuda pun menjawab, “iya pak kyai, saya juga sering mencuri sandal para jama’ah juga”. Kemudian pak kyai pun dawuh, “Man tarokal haroma nalalhalalan, yang artinya barang siapa yang meninggalkan perkara haram maka akan mendapatkan yang halal”. Kamu jangan mencoba mencuri lagi ya Zaid. Apabila kamu mau mencuri ingatlah dalil yang saya beritahu ke kamu itu. Sekarang kamu pulang dan tidurlah.

                Kemudian Zaid pun pulang kerumahnya, dalam perjalanan dia selalu ingat apa yang dikatakan pak kyai tadi. 

                Pada saat perjalanan pulang Zaid pun melewati pohon rambutan yang buahnya sangat lebat dan banyak. Kemudian naluri Zaid dalam mencuri muncul lagi, dan Zaid berusaha mengambil buah rambutan yang matang tanpa sepengetahuan pemiliknya. Namun, ketika Zaid sudah memegang rambutan tersebut, tiba-tiba iya ingat yang dikatakan oleh pak kyai. Akhirnya, Zaid pun tidak jadi mencuri buah tersebut dan melakukan perjalanan pulang kembali.

                Ditengah perjalanan pulang malam itu Zaid pun melewati rumah seorang janda yang sholihah, cantik, dan baik. Zaid melihat disekeliling tampak sepi tak ada orang sama sekali, sedangkan rumah si janda itu pintunya terbuka. Kemudian, Zaid mencoba masuk kedalam rumah si janda tersebut. Saat Zaid masuk dia melewati meja makan yang ada sebungkus nasi. Karena Zaid merasa lapar dan ia hidup sendiri, akhirnya zaid membuka nasi tersebut. Kemudian dia ingat kembali dengan dawuh pak kyai dan tidak jadi makan nasi tersebut. Zaid pun meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ruang tamu, ia melihat ada kotak yang berisi emas berlian. Kemudian, dia ingin mengambilnya dan ternyata dawuh kyai itu masih terbayang di pikirannya, sehingga dia tidak mengambilnya. 

                Setelah melihat isi rumah tersebut pemuda pun keluar rumah, dan melewati salah satu kamar yang terbuka. Dan si pemuda melihat kedalam kamar, lalu ia melihat seorang wanita yang sedang tertidur lelap. Pemuda pun menghampiri wanita yang sedang tidur itu, dan ia mulai tergoda akan paras indahnya wanita tersebut. Pemuda pun ingin memegang kulit si wanita, namun ketika mau memegang ternyata terdengar kumandang adzan subuh dan pemuda pun berlari keluar rumah dan menuju ke mushola untuk sholat jama’ah.

                Disaat yang tak terduga wanita itu pun sholat berjama’ah di mushola yang sama dengan si pemuda. Ketika selesai sholat jama’ah wanita pun melapor kepada pak kyai bahwa tadi malam ada seseorang yang masuk kerumahnya.

 Pak kyai pun bertanya, ”apakah kamu mengetahui ciri-ciri orang tersebut?”. Wanita itu menjawab, ”saya melihat orang itu berkulit putih dan memakai baju koko berwarna coklat”.

                Kemudian pak kyai itu menunjuk salah seorang jama’ah dan memanggilnya. Ternyata, yang dipanggil adalah Zaid. Pak kyai bertanya kepada Zaid, “apakah kamu yang tadi malam masuk kerumah wanita ini?, Zaid menjawab, “iya pak kyai, yang masuk kerumah wanita itu saya, tetapi saya tidak mengambil apa-apa dari rumah tersebut”.

                Pak kyai bertanya kepada wanita itu “apakah kamu seorang janda yang baru ditinggal suamimu meninggal setahun lalu?. Wanita menjawab, “benar pak kyai”.

                Kemudian melihat keadaan dari keduanya, bahwa Zaid pemuda yang belum menikah dan wanita itu adalah seorang janda, akhirnya pak kyai memutuskan untuk menikahkan si Zaid dengan wanita janda tersebut. Keduanya pun setuju dengan keputusan pak kyai, karena zaid dan wanita itu saling mencintai walaupun baru bertemu.

                Itulah akhir dari cerita tersebut, bahwa barang siapa yang meninggalkan perkara haram maka akan mendapatkan yang halal.

                 
 

Kamis, 25 Februari 2016

Biografi Kyai Hasyim Asy'ari


Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. 

Riwayat Keluarga
KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.

Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Menurut catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
Husain bin Ali
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)

Pendidikan :
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Silsilah Keilmuan:
KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
Penerus Beliau
(Murid) :
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas, antara lain:
KH Abdul Wahab Hasbullah, Pesantren Tambak Beras, Jombang
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)

(Keturunan)
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu
Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah
Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.

Putra-putri dari Nyai Nafiqoh
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf

Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:
(1) Abdul Qodir
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub

Rabu, 24 Februari 2016

Kebal Olok-Olokan, Ala Santri

Jangan Meladeni Pengolok, Penghina & Pencaci Maki

Jangan menghabiskan waktu untuk meladeni orang-orang yang tidak bisa berdiskusi dengan baik! Pengolok itulah orang yang tidak bisa berdiskusi dengan baik.

Ingat hidup ini sangat singkat. Karena singkatnya kehidupan, maka hendaknya waktu  yang berharga ini diisi oleh hal-hal yang berarti. Hal yang berarti itu adalah hal-hal yang benar-benar bermanfaat.

Sangatlah rugi bila menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berarti. Meladeni pengolok adalah hal yang kurang berarti. Disebut kurang berarti karena ada hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk dilakukan dari pada meladeni pengolok itu. Maka selama ada kesempatan untuk melakukan hal yang terbaik, maka lakukanlah yang terbaik. Meladeni olok-olok seseorang, apakah ini hal terbaik yang dapat kita lakukan? Tidak. Mendiamkan si pengolok, itulah yang terbaik.

Quote (selected)

jangan meladeni pengolok, penghina dan pencaci maki

pada suatu hari, pembantu imam Ali bin Abi Thalib yang bernama Qanbar dihina dan dicaci maki oleh seseorang. Qanbar bermaksud untuk membalasnya. Tetapi Imam Ali  mencegahnya. Beliau berkata, "wahai Qanbar, diam dan bersabarlah. Dengan cara demikianlah engkau menyiksa lawan mu. Sesungguhnya orang yang bodoh itu akan menderita, apabila ia tidak dijawab."

kita tidak meladeni pencaci maki, penghina dan pengolok-olok, bukanlah karena mengharapkan mereka menderita. Tetapi karena meladeninya berarti berbuat sesuatu yang sia-sia. Tentunya, kita semua tidak ingin perbuatan kita sia-sia. Tetapi, Imam Ali hanyalah menjelaskan hukum, karena pada kenyataannya orang-orang bodoh semakin panas hatinya, bila caci makinya tidak dijawab.

Jadi, diam atau memusatkan perhatian kepada hal-hal yang lebih bermanfaat merupakan tindakan yang lebih tepat dari pada melayani orang dengan kata-kata yang kotor terhadap kita. Terlalu banyak hal yang lebih penting dan berguna yang dapat kita pikirkan, dari pada memikirkan kata-kata kotor yang dilontarkan oleh seseorang terhadap kita.

Seorang muslim, mempunyai cara yang mudah untuk menghindari rasa tersinggung dan kemarahan, dan mempunyai cara yang mudah untuk menenangkan dan menyenangkan hatinya, yaitu dengan cara berdzikir.

Quote (selected)
20:130 Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang

semoga kita semua diberi kesabaran. Karena kebenaran itu berada dipihak orang-orang yang sabar. Jangan mengikuti orang yang gemar mengolok-olok dan menghina, karena perbuatan seperti itu menandangan mereka bukanlah orang-orang yang benar, tidak menandangkan bahwa mereka memiliki agama yang baik, menandakan mereka bukan orang bijak, serta menandakan mereka tidak pantas untuk diikui.

Ingatlah apa yang dinasihatkan oleh Imam Ali kepada Qanbar!!

 kunjungi: TeknologiSantri.blogspot.co.id
-http://medialogika.org/panduan-forum/jangan-meladeni-penghina-pengolok-dan-pencaci-maki/