“Santri Baru”
Santri identik
dengan pengajian Kitab Kuningnya. Salah satu yang dikaji disebuah pondok
pesantren yakni ilmu Alat (Nahwu). Sebuah ilmu yang wajib dipelajari dan
dikuasai oleh semua kalangan santri.
Ada
seorang santri baru di pondok pesantren Al-Mukhsinin, santri itu bernama Ponco.
Ketika waktu pengajian ilmu Alat (Nahwu), yang diajarkan oleh seorang ustadz
dan membahas pelajaran tentang bab Fa’il
(فاعل). Pada saat ustadz selesai menjelaskan bab tersebut, kemudian
ustadz pun membuka pertanyaan. Kemdian seorang santri yang bernama ponco
bertanya:
Ponco: Ustadz saya mau
bertanya, “Fa’ala isim-nya apa ustadz??” dengan serentak Santri-santri pun
tertawa. Wkwkwkwk
Ustadz: Dengan memasang wajah antara kaget dan bingung. Kemudian ustadz
bertanya, “Co, jenengmu sopo??” Dengan logat jawa, (nama kamu siapa??).
Dengan tenang ponco pun menjawab….
Ponco: “Nami kulo ponco, ustadz”.
Ustadz: “ponco. Sebelum ngaji disini udah pernah ngaji kitab nahwu apa
belum?”.
Ponco: “Sudah pernah ustadz, dulu disekolah aliyah”.
Ustadz: “Opo jenenge kitab e,Co?”.
Ponco pun bingung
menjawab (raut wajah ketakutan), karena sebelumnya dia belum pernah mengkaji
kitab nahwu…
Ponco: menjawab dengan gagap.”Aaaa… anu tadz. Kitabnya namanya Qurotul ‘uyun
ustadz”.
Dengan serentak ustadz
dan santri pun tertawa terbahak-bahak (wkwkwkwk), karena kitab yang disebutkan
bukan kitab yang membahas tentang ilmu alat. Kemudian ustadz menjawab kembali.
Ustadz: “Ponco, sampean perlu belajar nahwu kembali dengan kitab yang
sesungguhnya. Dan klo diajak bicara jangan bohong lagi yaa…”
Dengan peristiwa
itu, akhirnya semua santri merasa memiliki tanggung jawab untuk mengajari
pelajaran nahwu kepada ponco, begitu pun dengan pak Ustadz Busro. Karena itulah,
ilmu Roso dari seorang santri dapat tumbuh dengan sendirinya. Ilmu Roso itu
bagi santri sangat berguna ketika pulang nanti di sekeliling masyarakat.
Sekian terima kasih…
@santriTebuireng






0 komentar:
Posting Komentar